Perjalanan Tiga Hari Yang Memilukan
SABTU, 27 MEI 2006
Pada hari Sabtu, 27 Mei 2007, sekitar pk. 05.45-6.00 sewaktu perayaan Ekaristi pagi di Susteran PIJ Kekancan Mukti Semarang, terasa terjadi gempa. Pagi itu saya mendapat berita terjadi gempa yang terasa di wilayah Klepu, Kebonarum dll. Kontak telpon ke Yogyakarta untuk mengklarifikasi kejadian tersebut gagal, karena sistim komunikasi rusak. Pk. 10.00 saya berangkat dari Semarang menuju Yogyakarta lewat Boyolali. Tidak semua gambar dapat saya sertakan dalam kisah perjalanan ini. Beberapa gambar disertakan untuk membantu menghadirkan peristiwa yang memilukan tersebut.
Kebonarum: tempat parkir rata tanah, beberapa bagian gedung gereja retak, 2 plafon terjatuh.
Gondang: atap gereja dan pastoran rontok. Banyak rumah penduduk terpuruk, korban dibawa ke RS Tegalyoso Klaten.
Kalasan: Gedung gereja bagian depan atas melengkung, gereja tidak dapat digunakan lagi untuk ibadat. Halaman gereja digunakan untuk merawat para korban gempa. Juga halaman RS Panti Rini dipenuhi oleh para korban gempa. Perayaan Ekaristi sore itu dilaksanakan di luar gedung gereja.
Baciro: Pagar gereja roboh. Atap gereja hancur, rontok. Menara gereja di atas altar tumbang. Koster meninggal tertimpuk bangunan. Perayaan Ekaristi dilakukan di luar gereja.
Bintaran: Pagar runtuh. Tembok bagian atas retak-retak. Gedung pertemuan retak juga. Orang takut menggunakan gedung-gedung tersebut. Susteran Gembala Baik yang digunakan untuk asrama anak-anak rusak parah. Anak-anak tidur di halaman asrama tersebut.
Ganjuran: Gereja rusak parah, 3 orang meninggal. Petang harinya seorang di antaranya belum ditemukan. Candi Hati Kudus Yesus miring. Ada bagian Panti Asuhan rusak karena tertimpuk runtuhan tembok. RS sakit retak-retak. Pagar tembok bagian belakang roboh. Halaman RS digunakan untuk merawat korban gempa. Anak-anak asrama tidur di halaman. Perayaan Ekaristi sore itu dilakukan di halaman depan candi.
Bantul: Tembok bagian sakristi dan altar rontok. Gereja dalam bahaya roboh. Masih dapat bertahan karena disangga bangunan kuncung depan.
Malam hari saya ke rumah. Minggu, 28 Mei 2006, saya berangkat ke Wedi.
MINGGU, 28 MEI 2006
Pagi hari saya berangkat dari Surakarta menuju Yogyakarta. Di dalam perjalanan sempat diambil satu gambar gunung Merapi yang sedang mengeluarkan asap, yang membubung tinggi.
Wedi: dinding tembok gereja retak. Halaman gereja digunakan untuk merawat para korban. Pagi itu sedang dipersiapkan perayaan Ekaristi untuk korban yang meninggal: bapak dan ibu Rama P. Suparno, SJ. Ibu Rama Praptadiharjo dan 2 dua keponakannya.
Gereja stasi Dalem Wedi: dinding rontok. Halaman gereja dan sekolah digunakan untuk merawat para korban. Gantiwarno mengalami rusak parah. Sepanjang jalan terlihat banyak rumah penduduk rontok, banyak korban jiwa. Jalan retak. Anak muda sepanjang jalan menyorongkan kardus untuk minta bantuan.
Siang hari di Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta bertemu dengan dua orang tamu dari Caritas Germany: Heinz Terhorst, Philippe, dan Rm. Ismartono, SJ (koordinator Pelayanan Krisis dan Rekonsiliasi KWI), Mgr. I. Suharyo. Direncanakan sore itu berkunjung ke Ganjuran, dan ke Caben, desa yang rusak parah karena gempa.
Ganjuran: Halaman RS dipenuhi semakin banyak korban. Pencarian satu korban yang meninggal tertimpuk tembok belum berhasil. Hujan deras semakin memperburuk keadaan. Wilayah Caben yang dikunjungi rusak parah. Rumah-rumah penduduk rusak parah, rontok. Warga tidak berani tinggal di rumah-rumah tersebut. Mereka tinggal di luar dengan terpal seadanya. Logistik didukung oleh Posko yang ada di Ganjuran.
Direncanakan pk. 18.00 diadakan rapat koordinasi menangani gempa. Hasil rapat adalah memastikan kontak person untuk menangani korban gempa, serta menentukan rapat berikutnya, yaitu hari Jumat, 2 Mei 2006, pk. 17.00 di Kevikepan DIY.
Dari Yogya kami (saya dan Rama Ismartono) menuju Sala. Singga sejenak di RS Panti Rini Kalasan. Para korban gempa dirawat di RS dan ruang depan gereja Kalasan.
SENIN, 29 MEI 2006
Perjalanan hari ini diawali dengan menambalkan ban gembos. Ditemukan ada sekrup yang menancap pada ban belakang sebelah kiri. Dalam waktu singkat penambalan ban selesai. Kemudian kami menuju wilayah Wonosari.
Daerah Prambanan banyak rumah rusak, dan dari Prambanan ke arah Piyungan gempa menghantam banyak rumah. Genting rontok, rumah roboh. Di sepanjang jalan menuju Wonosari banyak anak muda meminta bantuan dana untuk korban gempa.
Bandung: gereja stasi Bandung paroki Wonosari rusak. Genting gereja rontok. Genting ruang pertemuan di samping kamar pastor rontok memanjang. Dinding tembok belakang gereja miring ke luar.
Wonosari: lewat sms dikabarkan bahwa gedung gereja lama rata tanah. Berita tersebut tidak betul. Gedung gereja lama masih berdiri, namun rusak. Dinding tembok retak. Genting rontok. Gedung gereja baru juga rusak. Plafon rontok, kawat baja terlepas. Relief Perjamuan Akhir retak.
Biara susteran AK rusak juga. Dinding tembok retak. Bebarapa bagian tanah turun. Para suster mengungsi ke Ngawen, para suster guru yang mengajar di sekolah Wonosari mondhok di rumah penduduk.
Panggang: beberapa rumah penduduk rusak. Orang-orang tidak berani tidur dalam rumah. Mereka tidur di halaman rumah, di bawah tenda.
Dalam perjalanan pulang menuju Sala kami mampir pastoran Wedi. Rama Saryanto sedang berada di pastoran. Dalam pembicaraan diberitahukan No. Rek untuk gempa DIY Jateng U/ lingkup DIY n Jateng: Keuskupan Agung Semarang QQ Gempa PGPM Kidulloji/Kevikepan DIY No. 018-01-00505-001. Bank Niaga Jl. Diponegoro Yogyakarta. Kecuali itu disiapkan rumusan formulir untuk pengajuan bantuan.
Indonesia berduka dan menangis lagi!
Berkah Dalem,
J. Pujasumarta, Pr
Comments
commenting closed for this article